| Bab kemanisan Iman | ||||||||
| عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ | ||||||||
| Dari Anas r.a. Nabi s.a.w. sabdanya : “Tiga perkara yang sesiapa memilikinya, dia akan mendapat kemanisan iman. (pertama) Hendaklah Allah dan rasul-Nya lebih dicintai mengatasi selain kedua-duanya. (kedua) Hendaklah dia mencintai seseorang, kerana Allah. (ketiga) Hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran sepertimana dia benci untuk dicampakkan ke dalam neraka”
|
Tuesday, March 27, 2012
Hadis pilihan hari ini
KISAH :SEDEKAH YANG MENGHAJIKAN
Pak Asep, demikian ia dijuluki, membungkuk membenahi barang dagangannya.
Dengan guratan-guratan tua di keningnya, wajahnya tetap kelihatan bening.
Sejak setahun lalu kopiah putih selalu menghiasi kepalanya, menutupi
rambutnya yang seluruhnya telah berwarna putih keperakan.
"Alhamdulillah Jang, kadang-kadang sepi kadang-kadang ramai," katanyaSejak setahun lalu kopiah putih selalu menghiasi kepalanya, menutupi
rambutnya yang seluruhnya telah berwarna putih keperakan.
menceritakan usahanya dengan bibir terus tersenyum.
Dalam usia yang ke 67 ini Pak Asep ditemani istrinya mengurus warung kelontong
berukuran 3 kali 4 meter. Pak Asep dan istrinya tidak dikaruniai anak. Diusia
yang senja mereka terlihat menikmati hidupnya. Toko kelontong yang ada di depan
rumahnya yang ada di sebuah gang kecil di Bandung itu jadi satu-satunya penopang
kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
"Ini kenang-kenangan dari Mekkah, Jang," menunjuk ke kopiah putihnya.
Pak Asep dan Istrinya memang pergi ke tanah suci tahun lalu. "Dari dulu Bapak
pingin pergi haji", lanjutnya. Hal ini membuatnya berkomitmen untuk menabung
sedikit-demi sedikit dari hasil penjualan barang-barang di warungya. "Saya mah
pokoknya niat pingin sekali pergi ke tanah suci," lanjutnya.
Bertahun sudah tabungannya, sesekali dihitungnya seekedar untuk makin
menguatkan keinginannya. "Kurang beberapa juta lagi, Nyi, cukup da, beberapa
tahun lagi, gak lama," katanya kepada istrinya. Senyum Pak Asep dan Istrinya
merekah. Terbayang ia bersama istrinya akan berthawaf keliling mengucapkan
talbiah, labbaik Allaahumma labbaik. Saat-saat yang dimpikannya bertahun-tahun,
menyempurnakan rukun Islam, rindu di hari tuanya mendekat kepada Sang Khalik.
Dalam hari-hari semangatnya berhaji itu, tiba-tiba sampai di telinganya,
tetangganya masuk rumah sakit dan harus dioperasi. Para tetangga sebenarnya
iuran mermbantu meringankan biaya rumah sakitnya. Tapi biaya operasi memang
mahal. Pak Asep tersentak.
Terbayang olehnya uang tabungannya untuk biaya haji dapat membantu operasi
tetangganya yang tak berpunya. "Haji ibadah, sedekah juga ibadah, gak apa
sedekahkan uang kita untuk berobat, Ki," istrinya mendukung uang tabungannya
bertahun-tahun itu diberikan untuk biaya tetangganya yang dioperasi di rumah
sakit. "Kang, terima ini ya, rezeki mah dari Allah, mungkin emang lewat saya,
biarlah ini jadi jalan makin dekat ku Allooh, moga-moga cepet sembuh, kang,"
katanya sambil menyerahkan amplop tebal uang tabungannya yang berbilang tahun
itu. Dipeluknya Pak Asep dengan erat.
Sedikit yang tahu ketulusan Pak Asep dan Istrinya ini. Ketika dokter yang
merawat temannya ini heran dari mana ia bisa membiayai operasi yang mahal ini,
maka sampailah cerita tentang uang tabungan haji Pak Asep ini. "Boleh saya
dikenalkan sama Pak Asep, pak?" sambut sang dokter terharu.
Ditemuinya Pak Asep dan istrinya. Dan ditemuinya keteduhan seorang dermawan.
Raut wajah yang kaya, meski dalam kesederhanaan hidup. "Pak Asep, saya ada
rezeki, bolehkan saya ikut mendaftarkan Bapak dan istri pergi haji bersama saya
dan keluarga?" Sang dokter menawarkan. Pak Asep dan istriya sejenak
berpandangan. Tak kuat lagi menahan haru, dipeluknya dokter dermawan tadi.
"Alloh Maha Kaya," ucapnya lirih di telinga dokter.
Maka kakinya kemudian hadir di Baitullah, berhaji, dengan karunia dan rezeki
dari Allah. Pak Asep dan istri seakan mereguk hidangan Allah yang sempurna, buah
dari kedermawanannya.
Kisah Pak Asep mungkin saja banyak terjadi kehidupan kita. Pak Asep-Pak Asep
lain pun telah menggores hikmah kehidupannya sendiri. Atau bahkan telah pula
sering kita alami sendiri. Dan selalu saja sedekah akan menyuburkan hati kita,
memberkahi kehidupan kita. Maka mengapa kita menunda sedekah kita?
Sedekah Itu Ajaib (kisah nyata)
Sebuah kisah dari pengalaman pribadi seseorang:
diawal pernikahan kmi masih tinggal di rumah orangtua dan terpikirlah untuk mencoba mandiri …
pas bilang ama ortu eh malah kena marah ktanya udah ada fasilitas kok malah cari yg susah …
dg bulat hati kmi putuskan tetap keluar dr rumah walau baru ngontrak ….
lalu tak sengaja kami mendengar ceramah di tv tentang sedekah bsa mngabulkan smua permohonan dan harapan umatnya ….
dari sedekah yg mulanya “klo ingat” kmi jadikan rutinitas wajib ….
100 ribu tiap bln kami sisihkan dr gaji kami dg harapan bisa punya rumah sendiri …
100 ribu tiap bln kami sisihkan dr gaji kami dg harapan bisa punya rumah sendiri …
ditengah jalan tiba2 kami diminta keluar dr kontrakan krn rmh itu sudah laku dijual ….
di saat yg sama saya terkena phk krn perusahaan melakukan pengurangan pegawai ….
sedihnya …
ortu mengatakan itulah ambil keputusan ngak pikir panjang tp kami tetap berusaha dg keputusan kami mencoba hidup mandiri ….
sedekah 100 ribu tetap kmi usahakan sambil trus berusaha …
terpuruk sekali saat kmi terpaksa pindah ke kontrakan yg kurang layak dan itu membuat anak2 sering sakit ….
kami berhemat dr banyak sisi sampai terkadang hanya makan telur ditambah tepung ….
alhamdulillah melihat kesungguhan kami untuk mandiri hati ortu tergerak ….
walau msh marah akhirnya mrk mau mampir ke rumah kmi dan menghargai keputusan kmi …
duh senangnya hati kami restu itu didapat sudah ….
dr situ perlahan kondisi kami membaik , dpt kontrakan lebih layak dan suami dapat promosi jabatan di kantornya …
sedekah ditambah jadi 200 ribu ,sedikit lebih banyak ….
kemudian terjadi lagi musibah suami jg terkena phk ….
duh bingung banget waktu itu tp bersyukur ortu sudah banyak beri dukungan “lagi”…
alhamdulillah sedekah msh bisa dilanjut dan suami dpt kerja baru lg ….
walau gaji tak seberapa sampai harus dikejar dept colector krn tagihan motor blm bisa kami bayar kami mencoba ikhlas ….
lalu cobaan datang lg keluarga tetangga yg puya rumah memutuskan 8 bln lagi rumah akan mrk tempati sendiri krn anaknya bekerja di kota ini ….
bingung lagi lah kami ini kali ke2 kami terusir memdadak ditambah sekarang kami punya 2 putra yg masih balita ….
tapi mukjizat allah memang datang tak terduga ….
usaha mesin suami yg sudah lama digeluti mendapat kontrak dr instansi pemerintah langsung sebanyak 4 mesin sekaligus ….
ya roob … keuntungan bersih kami terima saat itu langsung sebesar 200 juta di bayar di muka walaupun mesin belum jadi saat itu ….
bukan bermaksud pamer dg menyebut jumlahnya ….
tapi inilah janji allah , 2 thn kami sedekah dg harapan suatu saat bisa punya rumah dan di saat yg tdk terduga allah memberikan kpd kita di waktu yg tepat ….
rasa sedih dan bingung langsung hilang krn semua hutang bisa kmi lunasi bahkan membeli sebuah rumah terwujud sudah …..
krn dr itu sampai detik ini kami bersyukur bisa menambah jumlah sedekah kami lebih dr sebelumnya krn sekarang kami amat percaya apa arti sedekah itu dg membuktikannya langsung …
maka saudara jangan ragu mengeluarkan sedekah cepat atau lambat bila allah berkata tepat waktunya maka hasil itu pasti akan kita rasakan dg sangat banyak rasa syukur kpd “Allah swt” ….
Sunday, March 25, 2012
Sekitar Beirut, Lubnan
SUNDAY, MARCH 25, 2012
![]() |
| Tempat pembunuhan bekas Perdana Menteri Lubnan, Rafiq Hariri. Rafik Hariri ditembak mati pada 14 Februari 2005apabila bom TNT seberat 1000 kg meletupkan kenderaannya di Hotel St George , Beirut ,tengah Lubnan |
![]() |
| air laut yang jernih di persisiran bandar Beirut |
![]() |
| Ramai yang berjoging di persisiran laut ini |
![]() |
| bersih dan terpelihara |
![]() |
| pemandangan dari tingkat 8 hotel Monroe, Beirut |
![]() |
| pemandangan dari tingkat 8 hotel Monroe, Beirut |
![]() |
| pemandangan dari tingkat 8 hotel Monroe, Beirut |
![]() |
| Masjid Muhammad Amin, Beirut |
![]() |
| Masjid Muhammad Amin, Beirut |
Monday, March 19, 2012
Berdosa besar kahwin wanita hamil anak tak sah
AHAD, 18 MAC 2012

KUALA LUMPUR - Haram dan berdosa besar bagi lelaki yang mengetahui seorang wanita mengandungkan anak luar nikah jikalau menikahi wanita hamil itu.
Pernikahan cuma boleh dilangsungkan selepas wanita terbabit melahirkan anak, malah anak yang lahir tidak boleh dibin atau dibintikan lelaki yang menjadi pak sanggup kerana zuriat berkenaan bukan daripada benihnya.
Dalam Islam, anak yang lahir perlu dibinkan wanita itu sendiri manakala dalam hukum lebih longgar, ia dibolehkan berbin atau binti Abdullah (hamba Allah).
Pendakwah bebas yang juga Pengarah Urusan Telaga Biru, Dr Zahazan Mohamed, berkata anak berkenaan juga tidak boleh berkahwin dengan lelaki terbabit (pak sanggup) kerana lelaki itu menikahi ibunya.
“Gadis anak zina adalah mahram dengan bapa tiri tetapi bukan mahram dengan lelaki yang berzina dengan ibunya,” katanya.
Menurutnya, dalam budaya masyarakat Malaysia, jika seorang wanita hamil anak luar nikah, dia dan teman lelaki yang membuntingkannya dinasihatkan lekas kahwin bagi menutup aib serta menjaga maruah keluarga.
“Mengikut Jabatan Pendaftaran Negara (JPN), anak berusia enam bulan ke bawah ketika dalam kandungan, boleh dibinkan lelaki berkenaan. Ini hukum di sisi manusia bagi menyelamatkan maruah,” katanya.
Zahazan berkata, hukum di sisi Allah, seorang wanita penzina tidak layak berkahwin melainkan lelaki penzina (ayat 3 surah an-Nur) dan jika wanita itu ingin bertaubat, anak berkenaan dibolehkan berbin atau berbintikan nama wanita terbabit.
Sunday, March 18, 2012
Syarat Organisasi
Sebaik baik manusia ialah manusia yang bisa memberikan manfaat bagi manusia yang lain (alhadits)
Hadits diatas merupakan anjuran penting bagi kita, sebagai makhluk sosial dari russulullah , bahkan pada hadits yang lain (Riyadhus salihin bab nasihat) beliau bersabda”
(tidak beriman salah seorang diantara kalian sebelum ia menyayangi saudaranya sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri, HR Bukhari Muslim)
Untuk berbuat baik kepada orang lain, bisa kita dilakukan secara personal bisa juga secara kolektif namun akan lebih ringan bila hal tersebut dilakukan secara kolektif atau bersama-sama, nah !! karena itulah kita butuh berorganisasi agar perbuatan baik kita kepada orang lain lebih terasa manfaatnya secara umum, karena dengan berorganisasi semua pekerjaan berat dan ringan dapat dipikul secara bersama-sama, sesuai dengan keahlian dan kemampuannya masing-masing dalam satu kordinasi, dan dengan berorganisasi kita belajar bertanggung jawab, sesuai dengan posisi kita dalam ormas tersebut. Seorang anggota tentu beda dengan pengurus tanggung jawabnya, seorang ketua meski terlihat diam, sebenarnya dia bekerja dengan otaknya dan tentu jauh lebih besar tanggung jawabnya dari anggota.
Lalu sekarang bagaimana cara kita membuat sebuah organisasi ?
Sebenarnya sebuah ormas tidak perlu wah ! yang penting disesuaikan dengan tingkat sumber daya manusia yang dimilikinya, dan tujuan yang akan dicapainya, dan tak lupa pula jumlah personal yang akan terlibat secara ulet didalamnya, lalu apa syarat-syarat organisasi ?
Secara pokok syarat organisasi yaitu :
1. Ada ADART anggaran dasar dan anggaran rumah tangga , ini penting, agar sebuah ormas mempunyai aturan yang jelas dari domisili, nama ormas, arti logo/simbol, susunan pengurus dan tugas serta tanggung jawabnya etika-etika yang berkaitan dengan hak kewajiban dan sangsi bagi anggota dan pengurus sirkulasi kewangan dll.
2. Adanya pengurus, ini juga penting, agar setiap program yang dijalankan ada yang mengkoordinir dan bertanggung jawab, dari mengkonsep program, pembagian tugas bahkan bila perlu membentuk kepanitiaan.
3. Ada anggota, so pasti ! kalau tidak ada anggota siapa yang mau turun kelapangan , anggota sebagai ujung tombak dalam ormas yang berhadapan langsung dengan masyarakat atau simpatisan, yang mendengar secara langsung keluhan dan masukan dari masyarakat dan menjadi masukan berharga bagi organisasi.
4. Ada pembagian tugas yang jelas, ini juga penting lo ! supaya setiap personal yang terlibat dalam ormas tersebut tidak ngiri, dan tentunya pembagian tugas tersebut sesuai dan proporsional.
5. Ada program kerja, Nah ! ini adalah napas organisasi kalau organisasi tidak punya program maka semua personal akan jengah, bosan karena monoton, maka perlu diciptakan suasana suasana baru, dan eopurea untuk memunculkan ide ide kreatif dan selalu pasang telinga mendengar apa kemauan masyarakat yang bisa dikelola dan ditangani oleh organisasi, bila program menumpuk maka buatlah skala prioritas.
6. Ada tujuan, so pasti ! dan itu mesti /harus dan wajib kalo gak ada tujuan yang jelas, mau ngapain buat organisasi, mendingan tidur .
7. Ada kerja sama, Ingat KERJASAMA, bukan SAMASAMA KERJA, kerja sama berarti bekerja dalam satu kordinasi yang sudah terkonsep dengan jelas, pembagian tugas yang jelas dan tanggung jawab yang jelas, kalo samasama kerja, setiap kita setiap hari sama-sama kerja tapi kan tujuannya berbeda.
Sebenarnya dalam rumah tangga kita secara tidak sadar telah terbentuk sebuah organisasi kecil, yaitu organisasi rumah tangga, ketuanya adalah kepala keluarga bendahara dan sekretarisnya ibu rumah tangga dan anggotanya adalah yang tinggal dalam rumah itu, Gimana ? gampang kan bikin organisasi
Hadits diatas merupakan anjuran penting bagi kita, sebagai makhluk sosial dari russulullah , bahkan pada hadits yang lain (Riyadhus salihin bab nasihat) beliau bersabda”
(tidak beriman salah seorang diantara kalian sebelum ia menyayangi saudaranya sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri, HR Bukhari Muslim)
Untuk berbuat baik kepada orang lain, bisa kita dilakukan secara personal bisa juga secara kolektif namun akan lebih ringan bila hal tersebut dilakukan secara kolektif atau bersama-sama, nah !! karena itulah kita butuh berorganisasi agar perbuatan baik kita kepada orang lain lebih terasa manfaatnya secara umum, karena dengan berorganisasi semua pekerjaan berat dan ringan dapat dipikul secara bersama-sama, sesuai dengan keahlian dan kemampuannya masing-masing dalam satu kordinasi, dan dengan berorganisasi kita belajar bertanggung jawab, sesuai dengan posisi kita dalam ormas tersebut. Seorang anggota tentu beda dengan pengurus tanggung jawabnya, seorang ketua meski terlihat diam, sebenarnya dia bekerja dengan otaknya dan tentu jauh lebih besar tanggung jawabnya dari anggota.
Lalu sekarang bagaimana cara kita membuat sebuah organisasi ?
Sebenarnya sebuah ormas tidak perlu wah ! yang penting disesuaikan dengan tingkat sumber daya manusia yang dimilikinya, dan tujuan yang akan dicapainya, dan tak lupa pula jumlah personal yang akan terlibat secara ulet didalamnya, lalu apa syarat-syarat organisasi ?
Secara pokok syarat organisasi yaitu :
1. Ada ADART anggaran dasar dan anggaran rumah tangga , ini penting, agar sebuah ormas mempunyai aturan yang jelas dari domisili, nama ormas, arti logo/simbol, susunan pengurus dan tugas serta tanggung jawabnya etika-etika yang berkaitan dengan hak kewajiban dan sangsi bagi anggota dan pengurus sirkulasi kewangan dll.
2. Adanya pengurus, ini juga penting, agar setiap program yang dijalankan ada yang mengkoordinir dan bertanggung jawab, dari mengkonsep program, pembagian tugas bahkan bila perlu membentuk kepanitiaan.
3. Ada anggota, so pasti ! kalau tidak ada anggota siapa yang mau turun kelapangan , anggota sebagai ujung tombak dalam ormas yang berhadapan langsung dengan masyarakat atau simpatisan, yang mendengar secara langsung keluhan dan masukan dari masyarakat dan menjadi masukan berharga bagi organisasi.
4. Ada pembagian tugas yang jelas, ini juga penting lo ! supaya setiap personal yang terlibat dalam ormas tersebut tidak ngiri, dan tentunya pembagian tugas tersebut sesuai dan proporsional.
5. Ada program kerja, Nah ! ini adalah napas organisasi kalau organisasi tidak punya program maka semua personal akan jengah, bosan karena monoton, maka perlu diciptakan suasana suasana baru, dan eopurea untuk memunculkan ide ide kreatif dan selalu pasang telinga mendengar apa kemauan masyarakat yang bisa dikelola dan ditangani oleh organisasi, bila program menumpuk maka buatlah skala prioritas.
6. Ada tujuan, so pasti ! dan itu mesti /harus dan wajib kalo gak ada tujuan yang jelas, mau ngapain buat organisasi, mendingan tidur .
7. Ada kerja sama, Ingat KERJASAMA, bukan SAMASAMA KERJA, kerja sama berarti bekerja dalam satu kordinasi yang sudah terkonsep dengan jelas, pembagian tugas yang jelas dan tanggung jawab yang jelas, kalo samasama kerja, setiap kita setiap hari sama-sama kerja tapi kan tujuannya berbeda.
Sebenarnya dalam rumah tangga kita secara tidak sadar telah terbentuk sebuah organisasi kecil, yaitu organisasi rumah tangga, ketuanya adalah kepala keluarga bendahara dan sekretarisnya ibu rumah tangga dan anggotanya adalah yang tinggal dalam rumah itu, Gimana ? gampang kan bikin organisasi
Thursday, March 15, 2012
Pulau Noko
Di Bawean, "noko" adalah sebuah pulau kecil yang terletak kurang lebih empat kilometer arah tenggara Pulau Bawean. Kalau berdiri di pantai timur Bawean akan tampaklah pulau kecil yang luas permukaannya hanya sekitar 5 ribu meter persegi. Struktur tanahnya terdiri atas gugusan pasir yang semuanya berwarna putih. Jadi Pulau Noko ini seakan lapangan yang terbuat dari pasir putih yang berada ditengah-tengah laut.
Ada dongeng menarik tentang asal muasal terjadinya Pulau Noko ini. Sekitar 400 tahun yang lalu di Nusantara ini terjadi angin besar. Hampir semua pulau di Indonesia diterpa angin besar tersebut. Lantaran angin dahsyat itu banyak rumah penduduk roboh, pohon-pohon besar juga bertumbangan. Kapal, perahu, dan sampan banyak juga yang hanyut karena putus tali penambatnya karena gelombang dan arus yang kuat.
Dalam ilmu alam, angin yang terjadi ketika itu termasuk jenis angin siklon. Yakni angin ribut yang berputar dan bergerak dengan keras mengelilingi suatu pusat. Tempat yang menjadi pusat angin siklon waktu itu ada disekitar Pulau Bawean.
Ketika angin telah reda, banyaklah kapal dan perahu besar-kecil serta sampan-sampan terdampar di pantai Pulau Bawean yang jenisnya sangat beraneka ragam. Ada jenis perahu bugis, Sulawesi, Sumatera, Banyuwangi, sampan Madura dan masih banyak lainnya.
Pusat dari segala pusat angin siklon di atas tersebut terjadi di Pulau Noko. Sehingga Pulau Noko yang sebelum terjadi angin siklon itu hanya berupa tumpukan karang laut biasa setelah angin siklon telah reda, tumpukan karang-karang tersebut tertutup pasir yang semuanya berwarna putih yang berasal dari pasir-pasir yang dihempaskan oleh gelombang-gelombang besar dan arus kuat, maka jadilah Pulau Noko yang ada sampai sekarang ini, sebab itu sampai sekarang tidak ada seorangpun yang bisa mengartikan "Noko".
Warga Bawean Asyik Tonton Adu Sapi
Bawean - Suasana hujan tak mengendorkan semangat para pecandu aduan sapi. Ribuan warga Bawean rela berjubel mengelilingi lapangan sepak bola di desa Klompang Gubuk Kecamatan Tambak Bawean. Mereka bukan menonton pertandingan sepak bola, melainkan menyaksikan laga aduan sapi - sapi jantan, Selasa (15/6/2010).
Kegiatan aduan sapi serupa menurut ketua paguyuban aduan sapi se Kecamatan� Tambak Ishaq (40) selalu dilakukan setiap 2 minggu sekali. Menurutnya harga sapi-sapi jantan yang layak adu kisaran harganya mulai dari Rp 14 juta – Rp 20 juta.
Salah seorang pemilik sapi aduan, Supardi (40) warga desa Tanjung Ori Kecamatan Tambak merasa perlu mengikuti kegiatan tersebut karena apabila menang dalam laga tersebut sapinya akan semakin mahal. "Kalau menang harganya bisa naik," ungkap Supardi.
Sebaliknya dia pun tidak khawatir bila sapi miliknya cedera atau mati karena akan ditanggung oleh semua anggota paguyuban dengan cara menyembelih sapi yang cedera dan dagingnya di bagi-bagi pada seluruh anggota paguyuban.
Sunan Bonang

Tamba ati iku lima sak warnane
Maca Qur'an angen-angen sak maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonana
Kaping telu, wong kang soleh kencanana
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe
MENURUT tembang ini, ada lima macam ''penawar hati'', atau pengobat jiwa yang ''sakit''. Yakni membaca Al-Quran, mengerjakan salat tahajud, bersahabat dengan orang saleh, berzikir, dan hidup prihatin. Inilah pula yang sering dilantunkan Emha Ainun Nadjib bersama Kelompok Kyai Kanjeng, dalam sejumlah pergelarannya.
Di luar acara Emha, Tamba Ati hingga kini masih kerap dinyanyikan sejumlah santri di pesantren dan masjid di sejumlah desa. Tapi Cak Nun --demikian Emha biasa disapa-- bukan pencipta ''lagu'' itu. Tembang ini adalah peninggalan Raden Maulana Makdum Ibrahim, yang lebih dikenal sebagai Sunan Bonang.
Pada masa hidupnya, Sunan Bonang menyanyikan Tamba Ati untuk menarik warga masyarakat agar memeluk Islam. Pada saat berdendang, pria yang diduga berusia 60 tahun itu menabuh gamelan dari kuningan, yang dibuat oleh sejumlah warga Desa Bonang, Jawa Timur. Nama desa inilah yang kemudian melekat pada gelar sang Sunan.
Meski terampil, Sunan Bonang bukan putra penabuh gamelan. Ia justru putra Sunan Ampel, yang menikah dengan Condrowati, alias Nyai Ageng Manila. Nyai Ageng merupakan anak angkat Ario Tedjo, Bupati Tuban. Tidak ada catatan mengenai tanggal kelahiran Raden Makdum. Diduga, ia lahir di daerah Bonang, Tuban, pada 1465.
Sunan Ampel semula memberi ia nama Maulana Makdum. Nama ini diambil dari bahasa Hindi, yang bermakna cendekiawan Islam yang dihormati karena kedudukannya dalam agama. Semasa kecil, Sunan Bonang sudah mendapat pelajaran dari ayahnya, Sunan Ampel, dengan disiplin yang ketat. Tak heran jika dia pun, kemudian, terhisab ke dalam Wali nan Sembilan.
Sunan Ampel kemudian mengirim Sunan Bonang ke Negeri Pasai, Aceh masa kini. Di sana Sunan Bonang menuntut ilmu pada Syekh Awwalul Islam, ayah kandung Raden Paku alias Sunan Giri. Bersama Raden Paku, ia juga belajar pada sejumlah ulama besar yang banyak menetap dan mengajar di Pasai, seperti ulama ahli tasawuf dari Baghdad, Mesir, dan Iran.
Pulang dari menuntut ilmu, Sunan Bonang diminta Sunan Ampel berdakwah di Tuban, Pati, Pulau Madura, dan Pulau Bawean di utara Pulau Jawa. Seperti halnya Raden Paku alias Sunan Giri, yang mendirikan pesantren di Gresik, Sunan Bonang juga mendirikan pesantren di Tuban.
Dalam berdakwah, Sunan Bonang kerap menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati masyarakat, antara lain dengan seperangkat gamelan Bonang. Bila dipukul dengan kayu lunak, bonang itu melantunkan bunyi yang merdu. Bila Sunan Bonang sendiri yang menabuhnya, gaung sang bonang sangat menyentuh hati para pendengarnya.
Masyarakat yang mendengarnya berbondong-bondong datang ke masjid. Sunan Bonang lalu menerjemahkan makna tembangnya. Karena kekuatan suaranya itu pula, Sunan Bonang juga mendapat julukan lain: Sang Mahamuni. Tembang itu berisi ajaran Islam, sehingga tanpa sengaja mereka telah diberi penghayatan baru.
Pada masa itu, daerah Bonang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, yang mayoritas --dan ''resmi''-- beragama Hindu. Kebetulan, para penganut Hindu ketika itu sangat akrab dengan musik gamelan. Pengaruh gendingnya cukup melegenda. Bahkan gamelan itu telah menjadi bagian dari cerita kesaktian Sunan Bonang.
Misalnya dikisahkan, ia pernah menaklukkan Kebondanu, seorang pemimpin perampok, dan anak buahnya, hanya menggunakan tembang dan gending Dharma dan Mocopat. Begitu gending ditabuh, Kebondanu dan anak buahnya tidak mampu menggerakkan tubuhnya. ''Ampun... hentikan bunyi gamelan itu. Kami tak kuat,'' begitu konon kata Kebondanu.
Setelah diminta bertobat, Kebondanu dan gerombolannya pun menjadi pengikut Sunan Bonang. Tapi, kesaktian Sunan Bonang tak hanya terletak pada gamelan dan gaungnya. Cerita lain mengisahkan seorang brahmana, yang berlayar dari India ke Tuban. Tujuannya: ingin mengadu kesaktian dengan Sunan Bonang.
Namun, sebelum mendarat di Tuban, kapalnya dihajar ombak. Akibatnya, kitab-kitab kesaktiannya hanyut terbawa air. Beruntung, sang brahmana berhasil mencapai pantai. Di tepian laut itu ia berjumpa dengan seorang pria berjubah putih. Kepada pria itu ia menyatakan ingin berjumpa dengan Sunan Bonang untuk uji kesaktian.
Tapi, demikian katanya, ia tak lagi mampu melakukannya, karena semua kitabnya sudah raib di telan ombak. Pria berjubah itu mencabut tongkatnya yang tertancap di pasir pantai. Air muncrat dari lobang bekas tongkat itu... bersama semua kitab sang brahmana. Setelah pria tadi menyebut namanya, yang tiada lain daripada Sunan Bonang, Brahmana itu berlutut.
Pada masa hidupnya, Sunan Bonang termasuk penyokong kerajaan Islam Demak, dan ikut membantu mendirikan Masjid Agung Demak. Oleh masyarakat Demak ketika itu, ia dikenal sebagai pemimpin bala tentara Demak. Dialah yang memutuskan pengangkatan Sunan Ngudung sebagai panglima tentara Islam Demak.
Ketika Sunan Ngudung gugur, Sunan Bonang pula yang mengangkat Sunan Kudus sebagai panglima perang. Nasihat yang berharga diberikan pula pada Sunan Kudus tentang strategi perang menghadapi Majapahit. Selain itu, Sunan Bonang dipandang adil dalam membuat keputusan yang memuaskan banyak orang, melalui sidang-sidang ''pengadilan'' yang dipimpinnya.
Misalnya dalam kisah pengadilan atas diri Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang. Lokasi ''pengadilan'' itu sendiri punya dua versi. Satu versi mengatakan, sidang itu dilakukan di Masjid Agung Kasepuhan, Cirebon. Tapi, versi lain menyebutkan, sidang itu diselenggarakan di Masjid Agung Demak. Sunan Bonang juga berperan dalam pengangkatan Raden Patah.
Dalam menyiarkan ajaran Islam, Sunan Bonang mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ihya Ulumuddin dari al-Ghazali, dan Al-Anthaki dari Dawud al-Anthaki. Juga tulisan Abu Yzid Al-Busthami dan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Ajaran Sunang Bonang, menurut disertasi JGH Gunning dan disertasi BJO Schrieke, memuat tiga tiang agama: tasawuf, ussuludin, dan fikih.
Ajaran tasawuf, misalnya, menurut versi Sunan Bonang menjadi penting karena menunjukkan bagaimana orang Islam menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan kecintaannya kepada Allah. Para penganut Islam harus menjalankan, misalnya, salat, berpuasa, dan membayar zakat. Selain itu, manusia harus menjauhi tiga musuh utama: dunia, hawa nafsu, dan setan.
Untuk menghindari ketiga ''musuh'' itu, manusia dianjurkan jangan banyak bicara, bersikap rendah hati, tidak mudah putus asa, dan bersyukur atas nikmat Allah. Sebaliknya, orang harus menjauhi sikap dengki, sombong, serakah, serta gila pangkat dan kehormatan. Menurut Gunning dan Schrieke, naskah ajaran Sunan Bonang merupakan naskah Wali Songo yang relatif lebih lengkap.
Ajaran wali yang lain tak ditemukan naskahnya, dan kalaupun ada, tak begitu lengkap. Di situ disebutkan pula bahwa ajaran Sunan Bonang berasal dari ajaran Syekh Jumadil Kubro, ayahanda Maulana Malik Ibrahim, yang menurunkan ajaran kepada Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria.
Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, pada 1525. Saat akan dimakamkan, ada perebutan antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di pulau mereka, karena sang Sunan sempat berdakwah di pulau utara Jawa itu. Tetapi, warga Tuban tidak mau terima. Pada malam setelah kematiannya, sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, ''mencuri'' jenazah sang Sunan.
Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean! Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.
Wednesday, March 14, 2012
Pulau Bidadari yang Penghuninya Hanya 100.000 Orang
Pulau Bawean sering disebut Pulau Putri atau Pulau Bidadari, karena banyak laki-laki muda yang merantau ke Pulau Jawa atau bahkan ke luar negeri.
Mereka yang bekerja di luar negeri, terutama ke Malaysia dan Singapura, membentuk perkampungan komunitas yang biasa disebut orang Boyan.
Secara geografis, Bawean adalah sebuah pulau di Laut Jawa yang terletak 81 mil atau 150 km utara Pulau Jawa. Pulau ini dihuni lebih dari 100.000 jiwa atau sekitar 65.000 orang yang ber KTP. Mereka tersebar di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Sangkapura dan Tambak. Kebanyakan warganya bekerja sebagai TKI, sebagian lagi menjadi nelayan atau petani.
Selama ini, satu-satunya sarana menuju pulau itu adalah kapal laut. Ada dua jenis kapal yang melayari rute tersebut, yaitu KMP Ekspres Bahari 8-B dengan waktu tempuh tiga jam. Satunya lagi, KM Dharma Kartika yang menempuh waktu sembilan jam.
Kedua kapal itu, tidak akan berlayar bila ombak mencapai lima meter. Biasanya, pada bulan Agustus hingga Oktober, cuaca sangat ekstrim sehingga pelayaran biasanya ditunda.
Etnis mayoritas penduduk Bawean adalah Suku Bawean, Suku Jawa, Madura, Bugis dan Mandailing.
Kata Bawean berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti ada sinar matahari. Menurut legenda, sekitar tahun 1350, sekelompok pelaut dari Kerajaan Majapahit terjebak badai di Laut Jawa dan akhirnya terdampar di Pulau Bawean pada saat matahari terbit.
Awal abad ke-16, agama Islam masuk ke Bawean yang dibawa oleh Maulana Umar Mas’ud. Makamnya di pantai Selatan Kecamatan Sangkapura. Sedang di pantai utara, tepatnya di atas dataran tinggi Sumber Desa Diponggo ada makam ulama wanita penyebar Islam, Waliyah Zainab.
Bawean memiliki pariwisata yang cukup menawan, terutama pantainya. Ada juga danau di tengah-tengah pulau bernama Danau Kastoba.
Satwa khas Bawean adalah rusa (axis kuhli). Selain itu, juga terdapat batu onyx. Sejenis batu marmer, yang biasa dijadikan sebagai hiasan dan juga lantai.
Mereka yang bekerja di luar negeri, terutama ke Malaysia dan Singapura, membentuk perkampungan komunitas yang biasa disebut orang Boyan.
Secara geografis, Bawean adalah sebuah pulau di Laut Jawa yang terletak 81 mil atau 150 km utara Pulau Jawa. Pulau ini dihuni lebih dari 100.000 jiwa atau sekitar 65.000 orang yang ber KTP. Mereka tersebar di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Sangkapura dan Tambak. Kebanyakan warganya bekerja sebagai TKI, sebagian lagi menjadi nelayan atau petani.
Selama ini, satu-satunya sarana menuju pulau itu adalah kapal laut. Ada dua jenis kapal yang melayari rute tersebut, yaitu KMP Ekspres Bahari 8-B dengan waktu tempuh tiga jam. Satunya lagi, KM Dharma Kartika yang menempuh waktu sembilan jam.
Kedua kapal itu, tidak akan berlayar bila ombak mencapai lima meter. Biasanya, pada bulan Agustus hingga Oktober, cuaca sangat ekstrim sehingga pelayaran biasanya ditunda.
Etnis mayoritas penduduk Bawean adalah Suku Bawean, Suku Jawa, Madura, Bugis dan Mandailing.
Kata Bawean berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti ada sinar matahari. Menurut legenda, sekitar tahun 1350, sekelompok pelaut dari Kerajaan Majapahit terjebak badai di Laut Jawa dan akhirnya terdampar di Pulau Bawean pada saat matahari terbit.
Awal abad ke-16, agama Islam masuk ke Bawean yang dibawa oleh Maulana Umar Mas’ud. Makamnya di pantai Selatan Kecamatan Sangkapura. Sedang di pantai utara, tepatnya di atas dataran tinggi Sumber Desa Diponggo ada makam ulama wanita penyebar Islam, Waliyah Zainab.
Bawean memiliki pariwisata yang cukup menawan, terutama pantainya. Ada juga danau di tengah-tengah pulau bernama Danau Kastoba.
Satwa khas Bawean adalah rusa (axis kuhli). Selain itu, juga terdapat batu onyx. Sejenis batu marmer, yang biasa dijadikan sebagai hiasan dan juga lantai.
Desa Balikterus Bawean Hidup dari Gula Aren
Desa Balikterus Kec. Sangkapura Kab. Gresik diekanl sebagai penghasil gula aren. Hampir semua penduduknya bekerja membuat gula aren. Pekerjaan itu sudah turun temurun dari jeluarga.
Warga desa laki-laki maupun perempuan, setiap pagi dan sore masuk hutan untuk mengambil bambu berisi nira dan memasangnya lagi di tangkai buah aren yang telah dipotong. Hutan desa banyak tumbuhan aren kemudian disadap niranya yang oleh warga setempat disebut la’ang.
Adenan (52) warga setempat hari itu amat trampil memanjat pohon aren untuk mengambil bumbung yang berisi nira. “Setiap pagi dan sore kami selalu memasang dan mengambil bumbung di pohon aren. Untuk satu buah tangkai buah aren ini bisa diambil la’ang-nya hingga dua bulan, sedangkan sekali ambil, satu tangkai buah aren ini bisa menghasilkan lima liter,” kata pria yang sudah penuh keriput di raut mukanya itu.
Menurut Adenan, nira yang diambil dari tangkai buah aren yang baru dipotong sangat bagus kualitasnya dijadikan gula aren. ”Warnanya merah bersih, tapi jika nira diambil dari tangkai buah aren yang sudah lama dipotong, hasil gulanya agak gelap,” kata Adenan. Selain itu, dia menambahkan, nira aren di dari pegunungan di Desa Balikterus ini sangat segar untuk diminum langsug, apalagi bila dicampur dengan es.
”Rasanya sangat segar, biasanya pada saat bulan puasa, orang Bawean banyak yang membeli nira untuk dinikmati ketika makan buka, dipercaya la’ang juga bisa meningkatkan stamina dan kejantanan lelaki,” jelasnya.
Sepulang dari mengambil nira aren di hutan, Adenan langsung menuju rumah sore itu. Dan sesampainya di rumah sederhananya, Masriyah (40), istrinya, membawa bumbung berisi nira ke dapur untuk dimasak.
”La’ang dipanaskan di wajan selama beberapa jam hingga kental berwarna kemerahan. Setelah itu, la’ang dicetak di potongan bambu berdiameter empat centimeter,” papar Masriyah.
Kemudian dibiarkan hingga mengeras. Setelah mengeras, gula aren dilepas dari cetakannya dan dibungkus daun pisang. Per bungkus isinya sepuluh biji. Harga satu bungkus gula aren saat ini Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu. Satu bungkus gula aren berisi sepuluh biji itu dibutuhkan nira dua liter. Dia menjelaskan, gula aren ini mampu bertahan lama, bisa berbulan-bulan asalkan disimpan di tempat yang hangat biar tidak meleleh.
Hampir semua penduduk yang tinggal di Balikterus, berjumlah hingga ratusan kepala keluarga memanfaatkan gula aren sebagai penghasil pendapatan utama. Mereka menjual gula aren ke pasar-pasar. Tapi seringkali, turis asing atau perantau yang bekerja di Malaysia dan Singapura pulang membawa gula aren untuk dijual di negeri jiran itu.
”Di Malaysia biasanya gula aren Bawean ini dicampur dengan kelapa muda. Jadi pesanan akan meningkat pada saat musim libur atau hari-hari Lebaran, bahkan saking banyaknya pesanan, kita kekurangan barang,” imbuh Masriyah.
Tak ayal jika pada saat pesanan ramai, warga Balikterus kehabisan stok. Meskipun jumlah keluarga yang memproduksi gula aren ini ratusan, cara mereka mengolah masih tradisional, jadi tidak mumpuni untuk memproduksi gula aren dalam jumlah massal.
Sebenarnya, penghasil gula aren di Bawean tidak hanya di Desa Balikterus di beberapa daerah lainnya juga terkenal dengan produksi gula arennya, tapi penghasil gula aren dengan kualitas terbaik di Bawean adalah di Balikterus.
Desa yang berjarak lima kilometer dari kecamatan Sangkapura itu berada di daerah datarang tinggi. Pegunungan Balikterus sangat lebat dengan tanaman aren. Jadi, bahan baku gula aren di Balikterus sangat berlimpah, karena itu kualitas gula aren Balikterus terbaik.
Warga desa laki-laki maupun perempuan, setiap pagi dan sore masuk hutan untuk mengambil bambu berisi nira dan memasangnya lagi di tangkai buah aren yang telah dipotong. Hutan desa banyak tumbuhan aren kemudian disadap niranya yang oleh warga setempat disebut la’ang.
Adenan (52) warga setempat hari itu amat trampil memanjat pohon aren untuk mengambil bumbung yang berisi nira. “Setiap pagi dan sore kami selalu memasang dan mengambil bumbung di pohon aren. Untuk satu buah tangkai buah aren ini bisa diambil la’ang-nya hingga dua bulan, sedangkan sekali ambil, satu tangkai buah aren ini bisa menghasilkan lima liter,” kata pria yang sudah penuh keriput di raut mukanya itu.
Menurut Adenan, nira yang diambil dari tangkai buah aren yang baru dipotong sangat bagus kualitasnya dijadikan gula aren. ”Warnanya merah bersih, tapi jika nira diambil dari tangkai buah aren yang sudah lama dipotong, hasil gulanya agak gelap,” kata Adenan. Selain itu, dia menambahkan, nira aren di dari pegunungan di Desa Balikterus ini sangat segar untuk diminum langsug, apalagi bila dicampur dengan es.
”Rasanya sangat segar, biasanya pada saat bulan puasa, orang Bawean banyak yang membeli nira untuk dinikmati ketika makan buka, dipercaya la’ang juga bisa meningkatkan stamina dan kejantanan lelaki,” jelasnya.
Sepulang dari mengambil nira aren di hutan, Adenan langsung menuju rumah sore itu. Dan sesampainya di rumah sederhananya, Masriyah (40), istrinya, membawa bumbung berisi nira ke dapur untuk dimasak.
”La’ang dipanaskan di wajan selama beberapa jam hingga kental berwarna kemerahan. Setelah itu, la’ang dicetak di potongan bambu berdiameter empat centimeter,” papar Masriyah.
Kemudian dibiarkan hingga mengeras. Setelah mengeras, gula aren dilepas dari cetakannya dan dibungkus daun pisang. Per bungkus isinya sepuluh biji. Harga satu bungkus gula aren saat ini Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu. Satu bungkus gula aren berisi sepuluh biji itu dibutuhkan nira dua liter. Dia menjelaskan, gula aren ini mampu bertahan lama, bisa berbulan-bulan asalkan disimpan di tempat yang hangat biar tidak meleleh.
Hampir semua penduduk yang tinggal di Balikterus, berjumlah hingga ratusan kepala keluarga memanfaatkan gula aren sebagai penghasil pendapatan utama. Mereka menjual gula aren ke pasar-pasar. Tapi seringkali, turis asing atau perantau yang bekerja di Malaysia dan Singapura pulang membawa gula aren untuk dijual di negeri jiran itu.
”Di Malaysia biasanya gula aren Bawean ini dicampur dengan kelapa muda. Jadi pesanan akan meningkat pada saat musim libur atau hari-hari Lebaran, bahkan saking banyaknya pesanan, kita kekurangan barang,” imbuh Masriyah.
Tak ayal jika pada saat pesanan ramai, warga Balikterus kehabisan stok. Meskipun jumlah keluarga yang memproduksi gula aren ini ratusan, cara mereka mengolah masih tradisional, jadi tidak mumpuni untuk memproduksi gula aren dalam jumlah massal.
Sebenarnya, penghasil gula aren di Bawean tidak hanya di Desa Balikterus di beberapa daerah lainnya juga terkenal dengan produksi gula arennya, tapi penghasil gula aren dengan kualitas terbaik di Bawean adalah di Balikterus.
Desa yang berjarak lima kilometer dari kecamatan Sangkapura itu berada di daerah datarang tinggi. Pegunungan Balikterus sangat lebat dengan tanaman aren. Jadi, bahan baku gula aren di Balikterus sangat berlimpah, karena itu kualitas gula aren Balikterus terbaik.
Subscribe to:
Posts (Atom)








