Thursday, March 15, 2012

Pulau Noko

Berasal dari bahasa apa kata "noko"?. Di dalam kamus Umum Bahasa Indonesia dan dalam Ensiklopedia Indonesia tidak ditemui kata "noko". Jadi sulitlah untuk memberikan pengertiannya.

Di Bawean, "noko" adalah sebuah pulau kecil yang terletak kurang lebih empat kilometer arah tenggara Pulau Bawean. Kalau berdiri di pantai timur Bawean akan tampaklah pulau kecil yang luas permukaannya hanya sekitar 5 ribu meter persegi. Struktur tanahnya terdiri atas gugusan pasir yang semuanya berwarna putih. Jadi Pulau Noko ini seakan lapangan yang terbuat dari pasir putih yang berada ditengah-tengah laut.

Ada dongeng menarik tentang asal muasal terjadinya Pulau Noko ini. Sekitar 400 tahun yang lalu di Nusantara ini terjadi angin besar. Hampir semua pulau di Indonesia diterpa angin besar tersebut. Lantaran angin dahsyat itu banyak rumah penduduk roboh, pohon-pohon besar juga bertumbangan. Kapal, perahu, dan sampan banyak juga yang hanyut karena putus tali penambatnya karena gelombang dan arus yang kuat.

Dalam ilmu alam, angin yang terjadi ketika itu termasuk jenis angin siklon. Yakni angin ribut yang berputar dan bergerak dengan keras mengelilingi suatu pusat. Tempat yang menjadi pusat angin siklon waktu itu ada disekitar Pulau Bawean.

Ketika angin telah reda, banyaklah kapal dan perahu besar-kecil serta sampan-sampan terdampar di pantai Pulau Bawean yang jenisnya sangat beraneka ragam. Ada jenis perahu bugis, Sulawesi, Sumatera, Banyuwangi, sampan Madura dan masih banyak lainnya.

Pusat dari segala pusat angin siklon di atas tersebut terjadi di Pulau Noko. Sehingga Pulau Noko yang sebelum terjadi angin siklon itu hanya berupa tumpukan karang laut biasa setelah angin siklon telah reda, tumpukan karang-karang tersebut tertutup pasir yang semuanya berwarna putih yang berasal dari pasir-pasir yang dihempaskan oleh gelombang-gelombang besar dan arus kuat, maka jadilah Pulau Noko yang ada sampai sekarang ini, sebab itu sampai sekarang tidak ada seorangpun yang bisa mengartikan "Noko".

Warga Bawean Asyik Tonton Adu Sapi

Bawean - Suasana hujan tak mengendorkan semangat para pecandu aduan sapi. Ribuan warga Bawean rela berjubel mengelilingi lapangan sepak bola di desa Klompang Gubuk Kecamatan Tambak Bawean. 

Mereka bukan menonton pertandingan sepak bola, melainkan menyaksikan laga aduan sapi - sapi jantan, Selasa (15/6/2010).

Kegiatan aduan sapi serupa menurut ketua paguyuban aduan sapi se Kecamatan� Tambak Ishaq (40) selalu dilakukan setiap 2 minggu sekali. Menurutnya harga sapi-sapi jantan yang layak adu kisaran harganya mulai dari Rp 14 juta – Rp 20 juta.

Salah seorang pemilik sapi aduan, Supardi (40) warga desa Tanjung Ori Kecamatan Tambak merasa perlu mengikuti kegiatan tersebut karena apabila menang dalam laga tersebut sapinya akan semakin mahal. "Kalau menang harganya bisa naik," ungkap Supardi.

Sebaliknya dia pun tidak khawatir bila sapi miliknya cedera atau mati karena akan ditanggung oleh semua anggota paguyuban dengan cara menyembelih sapi yang cedera dan dagingnya di bagi-bagi pada seluruh anggota paguyuban.

Sunan Bonang


Tamba ati iku lima sak warnane 
Maca Qur'an angen-angen sak maknane 
Kaping pindo, sholat wengi lakonana 
Kaping telu, wong kang soleh kencanana 
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe 
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe 

MENURUT tembang ini, ada lima macam ''penawar hati'', atau pengobat jiwa yang ''sakit''. Yakni membaca Al-Quran, mengerjakan salat tahajud, bersahabat dengan orang saleh, berzikir, dan hidup prihatin. Inilah pula yang sering dilantunkan Emha Ainun Nadjib bersama Kelompok Kyai Kanjeng, dalam sejumlah pergelarannya. 

Di luar acara Emha, Tamba Ati hingga kini masih kerap dinyanyikan sejumlah santri di pesantren dan masjid di sejumlah desa. Tapi Cak Nun --demikian Emha biasa disapa-- bukan pencipta ''lagu'' itu. Tembang ini adalah peninggalan Raden Maulana Makdum Ibrahim, yang lebih dikenal sebagai Sunan Bonang. 

Pada masa hidupnya, Sunan Bonang menyanyikan Tamba Ati untuk menarik warga masyarakat agar memeluk Islam. Pada saat berdendang, pria yang diduga berusia 60 tahun itu menabuh gamelan dari kuningan, yang dibuat oleh sejumlah warga Desa Bonang, Jawa Timur. Nama desa inilah yang kemudian melekat pada gelar sang Sunan. 

Meski terampil, Sunan Bonang bukan putra penabuh gamelan. Ia justru putra Sunan Ampel, yang menikah dengan Condrowati, alias Nyai Ageng Manila. Nyai Ageng merupakan anak angkat Ario Tedjo, Bupati Tuban. Tidak ada catatan mengenai tanggal kelahiran Raden Makdum. Diduga, ia lahir di daerah Bonang, Tuban, pada 1465. 

Sunan Ampel semula memberi ia nama Maulana Makdum. Nama ini diambil dari bahasa Hindi, yang bermakna cendekiawan Islam yang dihormati karena kedudukannya dalam agama. Semasa kecil, Sunan Bonang sudah mendapat pelajaran dari ayahnya, Sunan Ampel, dengan disiplin yang ketat. Tak heran jika dia pun, kemudian, terhisab ke dalam Wali nan Sembilan. 

Sunan Ampel kemudian mengirim Sunan Bonang ke Negeri Pasai, Aceh masa kini. Di sana Sunan Bonang menuntut ilmu pada Syekh Awwalul Islam, ayah kandung Raden Paku alias Sunan Giri. Bersama Raden Paku, ia juga belajar pada sejumlah ulama besar yang banyak menetap dan mengajar di Pasai, seperti ulama ahli tasawuf dari Baghdad, Mesir, dan Iran. 

Pulang dari menuntut ilmu, Sunan Bonang diminta Sunan Ampel berdakwah di Tuban, Pati, Pulau Madura, dan Pulau Bawean di utara Pulau Jawa. Seperti halnya Raden Paku alias Sunan Giri, yang mendirikan pesantren di Gresik, Sunan Bonang juga mendirikan pesantren di Tuban. 

Dalam berdakwah, Sunan Bonang kerap menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati masyarakat, antara lain dengan seperangkat gamelan Bonang. Bila dipukul dengan kayu lunak, bonang itu melantunkan bunyi yang merdu. Bila Sunan Bonang sendiri yang menabuhnya, gaung sang bonang sangat menyentuh hati para pendengarnya. 

Masyarakat yang mendengarnya berbondong-bondong datang ke masjid. Sunan Bonang lalu menerjemahkan makna tembangnya. Karena kekuatan suaranya itu pula, Sunan Bonang juga mendapat julukan lain: Sang Mahamuni. Tembang itu berisi ajaran Islam, sehingga tanpa sengaja mereka telah diberi penghayatan baru. 

Pada masa itu, daerah Bonang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, yang mayoritas --dan ''resmi''-- beragama Hindu. Kebetulan, para penganut Hindu ketika itu sangat akrab dengan musik gamelan. Pengaruh gendingnya cukup melegenda. Bahkan gamelan itu telah menjadi bagian dari cerita kesaktian Sunan Bonang. 

Misalnya dikisahkan, ia pernah menaklukkan Kebondanu, seorang pemimpin perampok, dan anak buahnya, hanya menggunakan tembang dan gending Dharma dan Mocopat. Begitu gending ditabuh, Kebondanu dan anak buahnya tidak mampu menggerakkan tubuhnya. ''Ampun... hentikan bunyi gamelan itu. Kami tak kuat,'' begitu konon kata Kebondanu. 

Setelah diminta bertobat, Kebondanu dan gerombolannya pun menjadi pengikut Sunan Bonang. Tapi, kesaktian Sunan Bonang tak hanya terletak pada gamelan dan gaungnya. Cerita lain mengisahkan seorang brahmana, yang berlayar dari India ke Tuban. Tujuannya: ingin mengadu kesaktian dengan Sunan Bonang. 

Namun, sebelum mendarat di Tuban, kapalnya dihajar ombak. Akibatnya, kitab-kitab kesaktiannya hanyut terbawa air. Beruntung, sang brahmana berhasil mencapai pantai. Di tepian laut itu ia berjumpa dengan seorang pria berjubah putih. Kepada pria itu ia menyatakan ingin berjumpa dengan Sunan Bonang untuk uji kesaktian. 

Tapi, demikian katanya, ia tak lagi mampu melakukannya, karena semua kitabnya sudah raib di telan ombak. Pria berjubah itu mencabut tongkatnya yang tertancap di pasir pantai. Air muncrat dari lobang bekas tongkat itu... bersama semua kitab sang brahmana. Setelah pria tadi menyebut namanya, yang tiada lain daripada Sunan Bonang, Brahmana itu berlutut. 

Pada masa hidupnya, Sunan Bonang termasuk penyokong kerajaan Islam Demak, dan ikut membantu mendirikan Masjid Agung Demak. Oleh masyarakat Demak ketika itu, ia dikenal sebagai pemimpin bala tentara Demak. Dialah yang memutuskan pengangkatan Sunan Ngudung sebagai panglima tentara Islam Demak. 

Ketika Sunan Ngudung gugur, Sunan Bonang pula yang mengangkat Sunan Kudus sebagai panglima perang. Nasihat yang berharga diberikan pula pada Sunan Kudus tentang strategi perang menghadapi Majapahit. Selain itu, Sunan Bonang dipandang adil dalam membuat keputusan yang memuaskan banyak orang, melalui sidang-sidang ''pengadilan'' yang dipimpinnya. 

Misalnya dalam kisah pengadilan atas diri Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang. Lokasi ''pengadilan'' itu sendiri punya dua versi. Satu versi mengatakan, sidang itu dilakukan di Masjid Agung Kasepuhan, Cirebon. Tapi, versi lain menyebutkan, sidang itu diselenggarakan di Masjid Agung Demak. Sunan Bonang juga berperan dalam pengangkatan Raden Patah. 

Dalam menyiarkan ajaran Islam, Sunan Bonang mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ihya Ulumuddin dari al-Ghazali, dan Al-Anthaki dari Dawud al-Anthaki. Juga tulisan Abu Yzid Al-Busthami dan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Ajaran Sunang Bonang, menurut disertasi JGH Gunning dan disertasi BJO Schrieke, memuat tiga tiang agama: tasawuf, ussuludin, dan fikih. 

Ajaran tasawuf, misalnya, menurut versi Sunan Bonang menjadi penting karena menunjukkan bagaimana orang Islam menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan kecintaannya kepada Allah. Para penganut Islam harus menjalankan, misalnya, salat, berpuasa, dan membayar zakat. Selain itu, manusia harus menjauhi tiga musuh utama: dunia, hawa nafsu, dan setan. 

Untuk menghindari ketiga ''musuh'' itu, manusia dianjurkan jangan banyak bicara, bersikap rendah hati, tidak mudah putus asa, dan bersyukur atas nikmat Allah. Sebaliknya, orang harus menjauhi sikap dengki, sombong, serakah, serta gila pangkat dan kehormatan. Menurut Gunning dan Schrieke, naskah ajaran Sunan Bonang merupakan naskah Wali Songo yang relatif lebih lengkap. 

Ajaran wali yang lain tak ditemukan naskahnya, dan kalaupun ada, tak begitu lengkap. Di situ disebutkan pula bahwa ajaran Sunan Bonang berasal dari ajaran Syekh Jumadil Kubro, ayahanda Maulana Malik Ibrahim, yang menurunkan ajaran kepada Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. 

Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, pada 1525. Saat akan dimakamkan, ada perebutan antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di pulau mereka, karena sang Sunan sempat berdakwah di pulau utara Jawa itu. Tetapi, warga Tuban tidak mau terima. Pada malam setelah kematiannya, sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, ''mencuri'' jenazah sang Sunan. 

Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean! Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.

Wednesday, March 14, 2012

Pulau Bidadari yang Penghuninya Hanya 100.000 Orang

Pulau Bawean sering disebut Pulau Putri atau Pulau Bidadari, karena banyak laki-laki muda yang merantau ke Pulau Jawa atau bahkan ke luar negeri. 

Mereka yang bekerja di luar negeri, terutama ke Malaysia dan Singapura, membentuk perkampungan komunitas yang biasa disebut orang Boyan.

Secara geografis, Bawean adalah sebuah pulau di Laut Jawa yang terletak 81 mil atau 150 km utara Pulau Jawa. Pulau ini dihuni lebih dari 100.000 jiwa atau sekitar 65.000 orang yang ber KTP. Mereka tersebar di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Sangkapura dan Tambak. Kebanyakan warganya bekerja sebagai TKI, sebagian lagi menjadi nelayan atau petani.

Selama ini, satu-satunya sarana menuju pulau itu adalah kapal laut. Ada dua jenis kapal yang melayari rute tersebut, yaitu KMP Ekspres Bahari 8-B dengan waktu tempuh tiga jam. Satunya lagi, KM Dharma Kartika yang menempuh waktu sembilan jam.

Kedua kapal itu, tidak akan berlayar bila ombak mencapai lima meter. Biasanya, pada bulan Agustus hingga Oktober, cuaca sangat ekstrim sehingga pelayaran biasanya ditunda.

Etnis mayoritas penduduk Bawean adalah Suku Bawean, Suku Jawa, Madura, Bugis dan Mandailing.

Kata Bawean berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti ada sinar matahari. Menurut legenda, sekitar tahun 1350, sekelompok pelaut dari Kerajaan Majapahit terjebak badai di Laut Jawa dan akhirnya terdampar di Pulau Bawean pada saat matahari terbit.

Awal abad ke-16, agama Islam masuk ke Bawean yang dibawa oleh Maulana Umar Mas’ud. Makamnya di pantai Selatan Kecamatan Sangkapura. Sedang di pantai utara, tepatnya di atas dataran tinggi Sumber Desa Diponggo ada makam ulama wanita penyebar Islam, Waliyah Zainab.

Bawean memiliki pariwisata yang cukup menawan, terutama pantainya. Ada juga danau di tengah-tengah pulau bernama Danau Kastoba. 

Satwa khas Bawean adalah rusa (axis kuhli). Selain itu, juga terdapat batu onyx. Sejenis batu marmer, yang biasa dijadikan sebagai hiasan dan juga lantai.

Desa Balikterus Bawean Hidup dari Gula Aren

Desa Balikterus Kec. Sangkapura Kab. Gresik diekanl sebagai penghasil gula aren. Hampir semua penduduknya bekerja membuat gula aren. Pekerjaan itu sudah turun temurun dari jeluarga.   

Warga desa laki-laki maupun perempuan, setiap pagi dan sore masuk hutan untuk mengambil bambu berisi nira dan memasangnya lagi di tangkai buah aren yang telah dipotong. Hutan desa banyak tumbuhan aren kemudian disadap niranya yang oleh warga setempat disebut la’ang. 

Adenan (52) warga setempat hari itu amat trampil memanjat pohon aren untuk mengambil bumbung yang berisi nira. “Setiap pagi dan sore kami selalu memasang dan mengambil bumbung di pohon aren. Untuk satu buah tangkai buah aren ini bisa diambil la’ang-nya hingga dua bulan, sedangkan sekali ambil, satu tangkai buah aren ini bisa menghasilkan lima liter,” kata pria yang sudah penuh keriput di raut mukanya itu.

Menurut Adenan, nira yang diambil dari tangkai buah aren yang baru dipotong sangat bagus kualitasnya dijadikan gula aren. ”Warnanya merah bersih, tapi jika nira diambil dari tangkai buah aren yang sudah lama dipotong, hasil gulanya agak gelap,” kata Adenan. Selain itu, dia menambahkan, nira aren di dari pegunungan di Desa Balikterus ini sangat segar untuk diminum langsug, apalagi bila dicampur dengan es.

”Rasanya sangat segar, biasanya pada saat bulan puasa, orang Bawean banyak yang membeli nira untuk dinikmati ketika makan buka, dipercaya la’ang juga bisa meningkatkan stamina dan kejantanan lelaki,” jelasnya.

Sepulang dari mengambil nira aren di hutan, Adenan langsung menuju rumah sore itu. Dan sesampainya di rumah sederhananya, Masriyah (40), istrinya, membawa bumbung berisi nira ke dapur untuk dimasak.

”La’ang dipanaskan di wajan selama beberapa jam hingga kental berwarna kemerahan. Setelah itu, la’ang dicetak di potongan bambu berdiameter empat centimeter,” papar Masriyah.

Kemudian dibiarkan hingga mengeras. Setelah mengeras, gula aren dilepas dari cetakannya dan dibungkus daun pisang. Per bungkus isinya sepuluh biji. Harga satu bungkus gula aren saat ini Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu. Satu bungkus gula aren berisi sepuluh biji itu dibutuhkan nira dua liter. Dia menjelaskan, gula aren ini mampu bertahan lama, bisa berbulan-bulan asalkan disimpan di tempat yang hangat biar tidak meleleh.

Hampir semua penduduk yang tinggal di Balikterus, berjumlah hingga ratusan kepala keluarga memanfaatkan gula aren sebagai penghasil pendapatan utama. Mereka menjual gula aren ke pasar-pasar. Tapi seringkali, turis asing atau perantau yang bekerja di Malaysia dan Singapura pulang membawa gula aren untuk dijual di negeri jiran itu.

”Di Malaysia biasanya gula aren Bawean ini dicampur dengan kelapa muda. Jadi pesanan akan meningkat pada saat musim libur atau hari-hari Lebaran, bahkan saking banyaknya pesanan, kita kekurangan barang,” imbuh Masriyah.

Tak ayal jika pada saat pesanan ramai, warga Balikterus kehabisan stok. Meskipun jumlah keluarga yang memproduksi gula aren ini ratusan, cara mereka mengolah masih tradisional, jadi tidak mumpuni untuk memproduksi gula aren dalam jumlah massal.

Sebenarnya, penghasil gula aren di Bawean tidak hanya di Desa Balikterus di beberapa daerah lainnya juga terkenal dengan produksi gula arennya, tapi penghasil gula aren dengan kualitas terbaik di Bawean adalah di Balikterus. 

Desa yang berjarak lima kilometer dari kecamatan Sangkapura itu berada di daerah datarang tinggi. Pegunungan Balikterus sangat lebat dengan tanaman aren. Jadi, bahan baku gula aren di Balikterus sangat berlimpah, karena itu kualitas gula aren Balikterus terbaik.

Wisata ke Jherat Lanjheng (Kuburan Panjang)

Di dusun Tanjung anyar ( orang Bawean menyebutnya Tinggen) desa Lebak terdapat makam panjang, kira- kira panjang makam 11-12 meter.

Konon itu adalah tempat pusaka Aji Saka yang dikubur bersama darah Doro. Aji Saka adalah seorang Penyebar agama Hindu di Pulau Jawa (Javadwipa) yang berasal dari Kerajaan Asoka di India. Dia adalah salah satu pangeran dari kerajaan Asoka yang merantau ke Jawadwipa bersama dua orang pembatunya yang bernama Doro dan Sembodo.

Sebelum masuk ke Pulau Jawa, Pangeran Aji Saka bersama kedua pembatunya singgah di Pulau Bawean. Salah satu pembantunya yang bernama Doro di tinggal di Bawean bersama salah satu pusaka (pedang ) Aji Saka. Kemudian Aji Saka bersama Sembodo berangkat ke JawaDwipa. Aji Saka berpesan kepada Doro bahwa Pusaka itu tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali di ambil sendiri oleh Aji Saka.

Singkat cerita, setelah Pulau Jawa menjadi Hindu. Aji Saka teringat pada pembatunya di Bawean, Dan dia mengutus Sembodo untuk menjemput Doro dan mengambil Pusaka Aji Saka. Dan Aji Saka lupa bahwa dia pernah berpesan kepada Doro bahwa pusakanya tidak boleh diberikan kepada siapapun kecuali diambil sendiri oleh Aji Saka.

Setelah Sembodo sampai di Pulau Bawean, timbul salah paham antara Sembodo dan Doro. Doro memegang janjinya kepada Aji Saka bahwa pusakanya tidak akan diberikan kepada siapapun kecuali kepada Aji Saka, sedangkan Sembodo tidak mau kembali ke Pulau Jawa dengan tangan hampa karena tidak bisa membawa Pusaka seperti yang di amanatkan oleh Aji Saka. Karena masing-masing bersikeras dengan pendapatnya sendiri sehingga terjadilah perkelahian yang mengakibatkan keduanya meninggal.

Makam Doro Ada di di Tinggen yang dikenal dengan makam panjang doro, sedangkan makam Sembodo ada di tempat Pemakaman Umum di desa Tinggen.

Cerita ini pernah di putar di TVRI ( Televisi Republik Indonesia) tahun 1992. Tapi tidak disebutkan bahwa Dusun Tinggen Ada di Pulau Bawean. Tahun 1950-an terdapat prasasti yang diperkirakan dibuat oleh Aji Saka untuk mengenang kedua Pembantunya (Doro dan Sembodo) yang meninggal di Pulau Bawean. Prasasti itu Ditulis di Batu Besar dengan tulisan Honocoroko dengan stempel cap Kaki Kiri. Prasasti itu dulu terdapat di dusun Tinggen namun sayang prasasti itu di rusak Dan batunya di buat Jembatan di dusun Muara.

Selain obyek wisata berupa Makam panjang, di sana juga terdapat pemandangan bahari yang indah sekali, apalagi disebelah selatan Makam panjang Ada gunung Dan di pesisir gunung banyak Kita jumpai hutan bakau. Di kanan dan kiri makam juga terdapat pantai yang mana kalau Kita menengok ke selabah timur bisa Kita lihat dermaga dan jika Kita menengok ke sisi barat, matahari tenggelam menjadi andalan tempat ini. Dan rugi sekali rasanya jika Kita melewatkan tempat ini.

Kandasnya Sebuah Kapal Haji (2)

Alkisah, pada suatu hari ada sebuah kapal besar dari arah timur yang berlayar menuju Mekkah. Kapal tersebut ingin mengantar para penumpangnya untuk menunaikan ibadah haji. Entah karena apa, setelah sampai di sebelah tenggara Pulau Bawean, kapal tersebut tiba-tiba kandas. Padahal laut itu amat dalam dan tak kelihatan satu bendapun yang menahan kapal tersebut.

Setelah beberapa jenak, tiba-tiba dengan sangat ajaib di atas geladak kapal itu ada seekor ayam jantan berbulu putih mulus dan berparuh emas, kemudian ia berkokok nyaring sekali. Seketika itu pula kapal itu sudah tidak bergerak lagi dan benar-benar kandas yang lambat laun bagian-bagiannya menjadi karang dan batu. Sedang tiangnya menjadi pohon nangger yang masih ada sampai sekarang. Barang-barang para penumpang mulai menjamur dan ditumbuhi banyak tanaman. Sedang para penumpangnya yang ingin naik haji tiba-tiba menjelma menjadi kera atau "bhukal" kata orang Bawean.

Bintang Putih Membuat Pulau Bawean Terkenal

Beberapa pekerja tampak memotongi batu di bukit-bukti cadas Pulau Bawean. Dengan memakai linggis dan gergaji, tonjolan bukit cadas yang menghias Bawean itu sedikit demi sedikit terkepras.   

Bongkahan batu besar hasil potongan kemudian diangkut truk ke pengusaha batu onyx setempat. Penggalian batu onyx ini memang jadi dilema. Dari sisi ekonomi, batu-batu itu bernilai tinggi setelah diolah. Tapi di sisi lain kondisi gunung batu yang bertonjolan di Pulau Bawean pun rusak.

Di pulau ini ada beberapa pengolah batu onyx. Dua di antaranya di Desa Patar Selamat (H Abdurrahman) dan di Desa Sungai Teluk (Arifin). Keduanya berada di Kecamatan Sangkapura. 

M. Nur Ikhsan mewakili H Abdurrahman menjelaskan, banyak investor mancanegara yang mengajak kerja sama dengan pihaknya karena tertarik dengan batu onyx Bawean.

Salah satunya, investor asal negara Taiwan. “Kami mulai join dengan investor asal Taiwan itu tahun 2005 lalu, dan berjalan selama setahun. Kami mengirim batu onyx setengah jadi ke Taiwan,” kata dia.

Tahun 2006 Nur Ikhsan mengetahui harga jual onyx ternyata jauh lebih mahal dibandingkan harga belinya di Bawean. “Untung mereka sangat banyak, karena batu kita dihargai terlalu murah. Karena itu kami meminta kerja sama itu dihentikan,” kata Ikhsan.

Menariknya, kata pria 31 tahun itu, investor dari Taiwan itu langsung mengacungkan jempol ketika melihat batu onyx jenis bintang putih. “Ini baru batu yang bagus,” kata Ikhsan menirukan tanggapan investor asing itu saat pertama kali melihat contoh bintang putih. “Jika dibandingkan batu onyx di daerah lain, batu onyx Bawean terbaik,” tegas Iksan kembali.

Dia menjelaskan, ada tiga tambang batu onyx di Bawean, yaitu di Desa Sungai Teluk dan Desa Sawahmulya, Kec. Sangkapura, serta di Desa Kepuh Legundi, Kec. Tambak. Batu onyx di Sungai Teluk dan Sawahmulya sering dikenal dengan nama batu bintang sedangkan di Kepuh Legundi disebut dengan nama bintang putih. Batu onyx bintang putih inilah yang dianggap kualitasnya terbaik, lebih bening, mengkilap dan warnanya putih, berbeda dengan di daerah lain yang agak kecoklatan dan kusam.

Jenis kedua, batu bintang, banyak terdapat di Dusun Rujing. Batu ini memiliki corak dengan garis-garis atau urat kecoklatan. Meskipun tidak seindah bintang putih, batu bintang masih lebih indah dibandingkan batu onyx dari daerah lain. Sedangkan persamaannya, keduanya sama-sama bening bisa tembus cahaya mirip seperti sifat kaca.

Harga batu onyx bintang putih lebih mahal daripada bintang batu. Kap lampu ukuran standar dari batu bintang harganya hanya Rp 85 ribu, sedang yang menggunakan onyx bintang putih harganya mencapai Rp 125 ribu. “Untuk satu model barang saja selisihnya hingga Rp 45 ribu,” tandasnya.

Selain investor asal Taiwan, jelas Ikhsan, beberapa waktu lalu ada investor mancanegara lain yang juga tertarik dengan batu onyx Bawean. Investor dari Australia itu juga memiliki usaha barang unik di Jogja. Berbeda dengan investor asal Taiwan yang tertarik dengan batu onyx bintang putih, investor asal negeri kanguru ini justru tertarik dengan batu bintang yang berwarna kecoklatan itu.

“Menurut investor itu, batu bintang ini tampak lebih alami dibanding batu bintang putih. Saat itu mereka mengambil sampel batu bintang kecil-kecil yang sudah menjadi hasil kerajinan. Saat ini kami masih menunggu kabar dari mereka bagaimana kelanjutannya,” ujarnya.

Dijelaskan Ikhsan, selain mengolah batu onyx menjadi bahan baku setengah jadi, usaha yang dimiliki mertuanya itu juga mengolah menjadi barang jadi, tapi berupa kerajinan sederhana seperti meja, kursi, kap lampu, keramik untuk tembok dan lantai, asbak, dan kerajinan lain yang tidak rumit.

“Di sini, model jadi kerajinan yang kami olah terbatas, karena alat dan kemampuan pengrajin di sini juga terbatas. Untuk mengolah menjadi kerajinan itu awalnya kami mendatangkan empat pengrajin dari Tulungagung,” kata Ikhsan.

Orang Bawean sendiri, menurutnya, belum ada yang mumpuni mengolah batu onyx menjadi kerajinan. Mereka lebih memilih menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia atau Singapura daripada menjadi pengrajin batu onyx.

“Ketika ada pesanan yang terbilang susah, seperti patung kuda, naga, kumpulan ikan, ayam atau lainnya, kami tidak mampu. Tapi untuk menyiasatinya, kami mendatangkan hasil jadinya dari Tulungagung. Sebenarnya lucu, barang asli Bawean, kemudian dikirim ke Tulungagung, tapi kemudian dibawa kembali ke Bawean lantaran skill dan alat kami terbatas,” jelas Ikhsan.

Selain kekurangan tenaga terampil, industri onyx di Bawean juga terkendala pasokan listrik. Jika listrik di Bawean bisa menyala 24 jam nonstop, mereka pasti beralih menggunakan tenaga listrik dan meninggalkan tenaga diesel.

“Setiap dua setengah hari, diesel pemotong saya menghabiskan 100 liter solar, sedangkan harga solar Rp 5.000 per liter. Coba bayangkan berapa biaya untuk solar yang harus saya keluarkan dalam sebulan. Jika listrik di sini sudah menyala 24 jam penuh, saya pasti beralih menggunakan tenaga listrik karena bisa menghemat Rp 5 jutaan per bulannya untuk bahan bakar saja,” 

==============

Butuh Tenaga Pengolah Batu

Batu onyx Bawean berkualitas tinggi. Kijing makam mantan presiden RI kedua, Soeharto dan istrinya juga terbuat dari onyx asal Bawean. Sayangnya, Bawean baru sekadar produsen bahan mentah, belum bisa mengolah. Terbatasnya tenaga yang memiliki skill pengolahan onyx menjadi kendala besar.

Padahal, keberadaan tenaga pengolah diakui Arifin sangat membantu peningkatan kesejahteraan. “Di Tulungagung, sebelum ada suplai bahan baku dari Bawean, kondisi perekonomian tiap-tiap pengrajin rata-rata kelas menengah ke bawah. Coba lihat sekarang, rumah mereka mentereng-mentereng. Apalagi Bawean, jika memiliki pengrajian ahli yang banyak, hasilnya pasti mentereng,” tandas pengrajin onyx dari Desa Sungai Teluk ini.

Menurut Arifin, mengirim kerajinan jadi risikonya lebih besar. Sebab, menurut Arifin transportasi melalui laut saat ini belum memadai kapalnya, sehingga rawan pecah atau rusak saat dikirim ke luar Bawean.

Selain itu, senada dengan Ikhsan, untuk menproduksi batu onyx menjadi kerajinan jadi Arifin susah mencari tenaga ahli. Untuk memotong batu onyx dari bongkahan menjadi barang setengah jadi saja tahun 2003 lalu dia mendatangkan tenaga dari Tulungagung. Bahkan, saat ini kuli tambang batu onyxnya masih harus mencari ke Tulungagung.

“Tapi, mulai tahun 2004 lalu tenaga pemotong batu onyx menjadi bahan setengah jadi sudah ada dari Bawean, mereka belajar dari orang Tulungagung yang dulu saya panggil itu. Saat ini tenaga pemotong asli Bawean ada tujuh orang, sedangkan kuli tambangnya sembilan orang, semuanya dari Tulungagung,” katanya.

Arifin menilai, usaha batu onyx ini sangat menjanjikan, terlebih kualitas batu onyx di Bawean terbaik. Limbah sisa pemotongan saat pengolahan menjadi bahan baku setengah jadi pun menjadi rebutan pembeli, bisa digunakan untuk lantai atau dinding. 

Berbicara masalah keuntungan, Ikhsan membeberkan ketika pesanan lancar, per bulan dia bisa meraup pendapatan bersih Rp 16-18 juta dari penjualan bahan baku setengah jadi. 

Selain mengolah bahan baku setengah jadi dan menghasilkan kerajinan, terkadang dia juga mendapatkan order pemasangan dinding atau lantai batu onyx. 

Arifin sendiri pernah menggarap rumah milik H Jufri di Batam dan H Sujai di Tanjungpinang. Biaya pemasangan beserta tenaga ahli pemasangnya mencapai ratusan juta rupiah

Saturday, March 3, 2012

Jangan Melupakan Bawean



Jumizah Samsudin (23 th.) di Penang Malaysia, keturunan asli Pulau Bawean antara Gelam dan Pekalongan memiliki prinsip "Sukses dengan tidak melupakan daerah asal usulnya".

Menurut Jumie, mengatakan, "Dari sejak kecil orangtua selalu berpesan untuk tidak melupakan daerah asalnya Pulau Bawean, meskipun kami sendiri sampai hari ini belum menginjakkan kaki di Bawean,"katanya.

"Kehidupan dalam keluarga masih mempertahankan nilai dan adat Bawean, bahasa sehari-hari masih mengunakan bahasa Bawean. Sehingga kehidupan Bawean dalam keluarga sangat melekat dan sulit untuk melupakan Bawean," ujarnya.

"Melihat kondisi dan keadaan warga Bawean di Malaysia, antara sekarang dan dahulu sangat berbeda". Diantaranya menurut orang terdahulu, mengatakan "bahwa persatuan dan kesatuan warga Bawean di Penang sangat kuat dan memiliki pemimpin semacam Pak Lurah atau kepala kampung pada tahun 1950 sampai 1990. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi, bahkan mereka (keturunan Bawean : Red.) merasa sungkan untuk mengakui Pulau Bawean sebagai asal usulnya dilahirkan," jelas Jumizah.

"Sebenarnya orang Bawean di Malaysia banyak yang sukses dan berhasil, tapi kenyataannya sangatlah minim diantara mereka berfikir untuk kemajuan Pulau Bawean," ujar Jumizah Samsudin yang sekarang aktif sebagai Asisten Administratif Sekretaris di Universiti Sains Malaysia (USM), Penang Malaysia.

Jumizah Samsudin meskipun tidak pernah ke Bawean, tapi bahasa Bawean masih fasih. Sementara prestasinya sebagai Juara Bintang USM dan memiliki usaha makeup.

Sunday, February 19, 2012

Misteri di Telaga Kastoba Bawean

Danau Kastoba (Bawean:Talaghe), nama yang sudah tak asing lagi di benak masyarakat Bawean, bahkan sampai ke luar Bawean. Danau Kastoba ini merupakan satu dari beberapa objek wisata yang tersedia di pulau Bawean ini. danau ini terletak di dusun Candi, Desa Paromaan, kecamatan Tambak.

Sebagai persembahan alam, tentunya Danau Kastoba ini menjadi hadiah terindah alam untuk masyarakat Bawean. Keindahan pesonanya sanggup memanggil masyarakat untuk mengunjunginya. Biasanya hal itu terjadi di waktu liburan akhir tahun pelajaran sekolah, lebaran, dan waktu liburan lainnya. Aktivitas itu masih berlaku sampai sekarang. Danau Kastoba tak hanya menjadi objek wisata, melainkan juga bisa menjadi sarana memancing ikan Mujair bagi para pengunjung. Dilingkari pepohonan hijau yang perawan membuat udara disekitar danau begitu sejuk dan teduh. Airnya yang jernih, tak jarang membuat visitor terpancing untuk mandi dan berenang.

Sebagai objek wisata yang terletak di atas gunung, dengan sarana yang seadanya tentu sedikit menyulitkan pengunjung. Pengunjung harus melalui jalan kecil di tebing gunung. Namun kesulitan itu tak mengurangi keindahan di sepanjang jalan menuju lokasi, karena pengunjung dapat menyaksikan suguhan pemandangan lain nun jauh disana yang hijau. Sampai tulisan ini ditulis, entah sudah berapa kali tulisan tentang danau Kastoba ditulis.

Berbicara Danau Kastoba, keberadaannya juga tak bisa lepas dari cerita cerita mistis yang penuh misteri. Bahkan menurut peristiwa terjadinya, danau Kastoba merupakan bekas kerajaan raja jin (Lihat cerita pulau Bawean karya Zulfa Usman). Banyak cerita cerita masyarakat yang berkembang mengenai hal hal misteri di danau tersebut. Tentang ular naga misalnya yang menurut cerita sering menghanyutkan diri saat air sungai meluap, atau pusaran air di tengah danau yang dapat menarik siapa saja yang mendekat. Bahkan terjadinya longsor di Candi 2008 silam, Ada yang mengatakan disebabkan ulah “penunggu” danau Kastoba yang marah. Bila berbicara misteri, memang sulit dinalar dengan logika dan lebih sering menegangkan dan menakutkan. Namun, Terlepas dari segala misteri tersebut, bagaimanapun danau Kastoba adalah kekayaan alam Bawean yang perlu dilestarikan.

Jom Balik Ke Boyan (Bawean)



Semenjak berusia enam tahun saya telah bercita-cita untuk menziarahi Pulau Bawean, tanah kelahiran datuk moyang saya.  Kedua-dua orang tua saya berketurunan Bawean dari Desa Kelompang Gubuk. Dari zaman kanak-kanak lagi, saya telah mendengar cerita-cerita tentang pulau yang penuh dengan mistik ini dari mereka yang bergelar ''Orang-orang Pondok'' termasuklah arwah datuk dan nenek saya.  (Orang-orang pondok adalah mereka yang tinggal atau pernah tinggal di pondok-pondok Bawean Singapura.) 




Arwah datuk dan nenek saya sering bercerita tentang keindahan Pulau Bawean.... Danau Kastoba, rusa Axil Kuhlii, pantai yang cantik, perairan yang jernih, desa yang permai dan pulau yang penuh dengan kehijauan.  Setiap kali mereka bercerita, dari seraut air muka dan nada suara jelas menunjukkan kerinduan mereka terhadap kampung halaman yang ditinggalkan sekian lama.  Dan di akhir setiap sesei bercerita, saya pula telah berjanji untuk pulang ke Pulau Bawean dan membawa mereka bersama. Arwah datuk dan nenek hanya tersenyum lebar apabila mendengar janji-janji saya itu.




Alhamdulillah, pada tahun 2010 cita-cita saya telah tercapai.  Saya telah pulang ke Pulau Bawean selama lima hari semasa cuti sekolah pertengahan tahun.  Sejurus sahaja kaki saya memijak bumi Bawean, saya merasa sangat puas kerana dapat menunaikan janji yang saya kota semasa kanak-kanak dahulu.  Tambahan pula ibu yang disayangi ada berdiri di sebelah saya dengan senyuman yang lebar. 




Ibu saya telah menggantikan tempat arwah datuk dan nenek yang telah lama meninggal dunia. Jelas terlukis kegembiraan yang tidak terhingga di seraut muka ibu apabila dia menemui pak cik bongsu kesayangannya.  Dia juga sempat menziarahi pusara arwah datuk dan neneknya yang tidak pernah ditemui dan dikenali.




Melihat akan keindahan dan ketenangan suasana di Pulau Bawean, saya terkenang akan arwah datuk dan nenek yang selalu ceria apabila bercerita tentang pulau ini. Pemandangan-pemandangan di pulau kesayangan saya ini serupa dengan apa yang saya gambarkan sewaktu kanak-kanak dahulu.  Seumur hidup saya melancong ke luar negeri, selain dari kota Makkah dan Madinah, tidak pernah saya merasakan ketenangan seperti yang saya rasakan di pulau santri ini. Saya berharap dapat pulang lagi ke Pulau Bawean di masa-masa hadapan. Insya'Allah.

Kisah Warga Bawean ini dipetik dari blogspot

Thursday, February 2, 2012

Menuruti Hawa Nafsu


Setiap manusia pasti memiliki keinginan terhadap sesuatu. Itulah yg kemudian disebut hawa nafsu. Pada dasarnya manusia boleh saja memenuhi segala keinginannya selama keinginan itu tidak bertentangan dgn aturan Allah dan Rasul-Nya. Namun ternyata begitu banyak manusia yg memenuhi segala keinginannya yg tidak benar tanpa kendali. Oleh krn itu di dalam Islam kita mengenal ada perintah berperang melawan hawa nafsu. Itu artinya kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu bukan membunuh nafsu yg membuat kita tidak memiliki lagi keinginan terhadap sesuatu.
Menuruti hawa nafsu dalam arti negatif yakni menuruti segala keinginan yg tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ini merupakan sifat yg tidak boleh kita miliki. Bila hal itu kita miliki akan sangat berbahaya tidak hanya bagi kita secara pribadi tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat luas.
Akibat Negatif Ada banyak akibat negatif yg akan ditimbulkan dari menuruti hawa nafsu tanpa kendali itu.
1. Menyimpang dari Kebenaran Orang yg menuruti hawa nafsu cenderung menyimpang dari kebenaran baik dalam bentuk perkataan perbuatan maupun keputusan dan kebijakan yg ditempuhnya. Nafsu ingin memiliki harta membuat begitu banyak orang yg menghalalkan segala cara dalam memperolehnya meskipun akan merugikan pihak lain. Nafsu memperoleh dan mempertahankan kekuasaan telah membuat banyak orang yg melanggar peraturan meskipun peraturan itu dibuat oleh mereka sendiri dan begitulah seterusnya. Allah SWT berfirman yg artinya Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu krn kamu ingin menyimpang dari kebenaran. .
Oleh krn itu sebagai muslim kita harus selalu berusaha berada di atas ketentuan yg telah digariskan Allah SWT dalam menjalankan kehidupan di dunia ini dan tidak akan tergoda oleh keinginan hawa nafsu manusia yg memang selalu berusaha menyimpangkan kita dari jalan hidup yg benar. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan itu maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yg tidak mengetahui. .
2. Sesat dan Menyesatkan Manusia Menyimpang dari kebenaran berarti menempuh jalan yg sesat dan orang yg mengikuti hawa nafsu sering kali semakin asyik dgn kesesatannya itu bahkan sampai tidak merasa berdosa lalu berusaha membenarkan kesesatan yg dilakukannya itu dgn berbagai dalih. Oleh krn itu seorang muslim diingatkan oleh Allah SWT agar jangan sampai menuruti hawa nafsu yg akan membawanya pada kesesatan yg fatal. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu krn ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yg sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yg berat krn mereka melupakan hari perhitungan. .
Kalau seseorang selalu mengikuti hawa nafsu yg akhirnya mengarahkan dirinya pada kesesatan maka dia pun tidak mau sesat sendirian dia pun selalu berusaha utk menyesatkan orang lain secara sungguh-sungguh. Dan sesungguhnya kebanyakan benar-benar hendak menyesatkan {orang lain} dgn hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yg lbh mengetahui orang-orang yg melampaui batas. .
3. Melampaui Batas Dalam banyak kasus orang yg menuruti hawa nafsu menunjukkan sikap dan melakukan tindakan yg melampaui batas-batas kewajaran. Sebagai contoh kita tidak boleh berburuk sangka kepada orang lain namun krn ada orang yg berburuk sangka kepada orang lain kita pun mengikutinya dalam opini yg berburuk sangka itu dan penilaian terhadapnya menjadi jelek. Jangankan orang tersebut melakukan keburukan bila dia melakukan sesuatu yg sangat baik sekalipun kita menganggapnya sebagai sesuatu yg buruk ini namanya melampaui batas-batas kewajaran. Orang yg selalui menuruti hawa nafsunya memang akan selalu bersikap dan berperilaku yg melampaui batas. Dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yg hatinya telah Kami lalaikan utk mengingat Kami serta mengikuti hawa nafsunya krn segala urusannya suka melampaui batas. .
Ayat tersebut di atas turun ada sebabnya. Di antara riwayat yg menjelaskan tentang sebabnya adl sebagai berikut. Uyainah bin Hishnin datang menghadap Nabi saw. yg sedang duduk bersama Salman al-Farisi. Ia berkata Jika kami datang hendaknya orang ini dikeluarkan dan baru kami dipersilakan masuk maka turun ayat tersebut yg mengingatkan Rasulullah utk tidak memenuhi permintaan tersebut krn hal itu sudah malampaui batas. Dalam kehidupan kita sekarang kita dapati begitu banyak orang yg krn menuruti hawa nafsunya selalu memberikanpenilaian yg buruk kepada orang lain meskipun orang tersebut melakukan sesuatu yg sangat baik dan menyikapi segala sesuatu dgn hal-hal yg tidak wajar.
Bentuk lain dalam soal melampaui batas adl penggunaan atau membelanjakan harta yg cenderung boros padahal Islam melarang orang utk berlaku boros tetapi yg diperintah adl berhemat-hemat. Dalam hal ini ada orang yg berlebih-lebihan dalam soal makan minum pakaian rumah kendaraan dan sebagainya. Akibatnya ada kegoncangan dalam masalah ekonomi yg berakibat pada pergeseran nilai manakala hal-hal tersebut tidak bisa dipenuhi secara wajar.
4. Merusak Kehidupan Rusaknya kehidupan manusia akan terjadi apabila mereka selalu menuruti hawa nafsunya baik kerusakan itu dari segi fisik maupun mental. Kehidupan rumah tangga juga akan mengalami kerusakan apabila orang yg ada di dalamnya selalu menuruti hawa nafsu. Suatu bangsa dan negara juga akan hancur manakala manusianya suka menuruti hawa nafsu. Menuruti hawa nafsu dalam soal harta akan merusak sendi-sendi kehidupan ekonomi. Menuruti hawa nafsu dalam masalah seks akan merusak kehidupan moral dan akhlak mulia. Menuruti hawa nafsu berkuasa akan menghancurkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara begitulah seterusnya. Karena itu dalam suatu hadis Rasulullah saw.
bersabda Ada tiga hal yg dapat merusak kekikiran yg selalu ditaati hawa nafsu yg diikuti dan bangga terhadap diri sendiri. .
Terjadinya kerusakan fisik lingkungan hidup serta moralitas yg rendah bagai binatang adl disebabkan oleh tindakan manusia sendiri yg selalu menuruti hawa nafsunya dan itu semestinya membuat manusia menyadari kesalahannya lalu mau kembali ke jalan hidup yg benar. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan krn perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka kembali . .
Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa nafsu yg ada pada diri kita masing-masing harus kita kendalikan dgn baik sehingga segala keinginannya yg baik akan kita turuti dan kita penuhi sedangkan keinginan yg buruk tidak akan kita penuhi meskipun hal itu akan menyenangkan diri kita secara duniawi. Apabila hal ini tidak bisa kita capai kita mengalami kerugian baik di dunia maupun di akhirat. Di sinilah pentingnya memiliki nafsu yg selalu memperoleh rahmat dari Allah SWT sebagaimana nafsu yg telah dimiliki oleh Nabi Yusuf a.s. sehingga beliau bisa menghindarkan dirinya dari segala bentuk kemaksiatan. Dan aku tidak membebaskan diriku {dari kesalahan} krn sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yg diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. .